A.
Al-Baqarah ayat 129
$uZ/u‘ ô]yèö/$#ur öNÎg‹Ïù Zwqß™u‘ öNåk÷]ÏiB (#qè=÷Gtƒ öNÍköŽn=tæ y7ÏG»tƒ#uä ÞOßgßJÏk=yèãƒur |=»tGÅ3ø9$# spyJõ3Ïtø:$#ur öNÍkŽÏj.t“ãƒur 4 y7¨RÎ) |MRr& Ⓝ͕yèø9$# ÞOŠÅ3ysø9$# ÇÊËÒÈ
Ya Tuhan Kami,
utuslah untuk mereka sesorang Rasul dari kalangan mereka, yang akan membacakan
kepada mereka ayat-ayat Engkau, dan mengajarkan kepada mereka Al kitab (Al
Quran) dan Al-Hikmah (As-Sunnah) serta mensucikan mereka. Sesungguhnya
Engkaulah yang Maha Kuasa lagi Maha Bijaksana. (QS. Al-Baqarah: 129)
Keterangan Ayat:
Ini
adalah doa Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail yang ketiga dan yang terakhir di
sela-sela kesibukannya menyelesaikan renovasi dan pemugaran Ka’bah. Kandungan
doa ini hanya satu macam, tapi agaknya ke sinilah semua doa sebelumnya
bermuara. Yaitu, kedua nabi besar ini meminta agar di tengah-tengah masyarakat
baru yang dibentuknya suatu saat di-bi’tsa(dibangkitkan) seorang rasul dari
kalangan mereka sendiri; maksudnya, dari kalangan ذُرِّيّة (dzurriyah, keturunan)-nya
yang bermukim di tempat itu. Doa ini mengisyaratkan bahwa dari rumpun ذُرِّيّة
(dzurriyah, keturunan)-nya akan ada satu garis yang terjaga kesuciannya,
yang tidak melakukan kezaliman, yang kelak akan melahirkan buah kerasulan, yang
akan menghidupkan kembali مِّلَّة (millah) Ibrahim, memurnikan manasik-nya, dan mengimami أُمَّةً مُّسْلِمَةً (ummatan muslimatan, Umat Muslim). Di sinilah kita bisa
dengan mudah memahami kenapa ada doa pertobatan Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail di
ujung doanya di ayat sebelumnya (128). Rupanya, doa itu adalah pagar terhadap
generasi demi generasi agar garis tersebut benar-benar terjaga. Metoda
penjagaan dan keterjagaan inilah yang Allah hendak sampaikan saat menceritakan
prosesi kelahiran Nabi Isa dari seorang wanita suci bernama Maryam yang juga
merupakan ‘hasil’ penjagaan dari generasi sebelumnya, yakni Keluarga Imran.
“(Ingatlah), ketika isteri Imran berkata: ‘Ya Tuhanku, sesungguhnya aku
menazarkan kepada Engkau anak yang dalam kandunganku (ini) menjadi hamba yang
saleh dan berkhidmat (di Baitul Maqdis). Maka terimalah (nazar) itu dariku.
Sesungguhnya Engkau Maha Mendengar, Maha Mengetahui’. Maka tatkala isteri Imran
melahirkan anaknya, diapun berkata: ‘Ya Tuhanku, sesungguhnya aku telah
melahirkan seorang anak perempuan’; dan Allah lebih mengetahui yang
dilahirkannya itu, dan anak laki-laki tidaklah seperti anak perempuan. ‘Sesungguhnya
aku telah menamai dia Maryam dan aku mohon perlindungan untuknya serta ذُرِّيّة
(dzurriyah, keturunan)-nya kepada (pemeliharaan)-Mu dari (gangguan)
syaitan yang terkutuk.’ Maka Tuhannya menerimanya (sebagai nazar) dengan
penerimaan yang baik, dan mendidiknya dengan pendidikan yang baik dan Allah
menjadikan Zakaria pemeliharanya. Setiap Zakaria masuk untuk menemui Maryam di
mihrab, ia dapati makanan di sisinya. Zakaria berkata: ‘Hai Maryam dari mana
kamu memperoleh (makanan) ini?’ Maryam menjawab: ‘Makanan itu dari sisi Allah’.
Sesungguhnya Allah memberi rezki kepada siapa yang dikehendaki-Nya tanpa
hisab....(Ingatlah), ketika Malaikat berkata: ‘Hai Maryam, sesungguhnya Allah
menggembirakanmu dengan kalimat (yang datang) daripada-Nya, namanya (kalimat itu)
al-Masih Isa putera Maryam, seorang terkemuka di dunia dan di akhirat dan
termasuk orang-orang yang didekatkan (kepada Allah).” (3:35-37 dan 45)
Dalam
ayat tersebut, yang berperan sebagai pendidik adalah Rasul. Di sini Allah
menggunakan kata يُعَلِّمُهُم (yu’allimuɦum),
yang artinya “mengajarkan kepada mereka”. Yang perlu kita garisbawahi di sini
ialah kata يُعَلِّم (yu’allimu)-nya. Karena
ini menunjukkan bahwa, dalam kaitannya dengan Kitab Suci, ‘profesi’ rasul ialah
sebagai guru dalam seluruh pengertiannya (mengajarkan, mencontohkan,
menuntunkan cara penerapannya), persis ‘profesi’.[1]
Peserta
didik yang ada dalam ayat tersebut adalah umat nabi Muhammad SAW. Dimana Rasul
akan mengajarkan orang-orang yang ummi (yang tidak mengerti baca tulis),
menuntun orang-orang yang sesat kejalan kebaikan, dan menegakkan kebenaran di
seluruh alam semesta.
Metode
pendidikan terdapat pada, يَتْلُو عَلَيْهِمْ آيَاتِكَ (yatluw ‘alayɦim ayatika, menelaahkan kepada
mereka ayat-ayat-Mu). Kata يَتْلُو
(yatlu, menelaahkan) bermakna menguraikan sedemikian rupa sehingga
penerima bisa memahaminya dengan benar, jadi bukan sekedar membacakan atau
menyampaikan. Di Surat Yusuf ayat 108 dikatakan عَلَى بَصِيرَةٍ (‘ala bashiyratin), dengan argumen yang bisa
diterima oleh bashirah, oleh cernaan nalar insani atau akal
budi (baik melalui telaah intelektual ataupun melalui serapan spiritual),
sehingga penerima tidak punya celah untuk ‘lari’. Sehingga yang menolak,
benar-benar hanyalah mereka yang tertutup pintu hati dan pikirannya; dan karenanya
pantas disebut “kafir” (sengaja ingkar).
Jadi,
pada ayat tersebut, metode pendidikan yang digunakan adalah dengan membacakan,
mengajarkan, dan menyucikan (melarang mereka dari perbuatan dosa dan
kejahatan).
Dalam
ayat tersebut apa yang ditelaahkan atau yang diajarkan? Jawabannya: آيَاتِكَ (ayatika),
ayat-ayat, tanda-tanda, petunjuk-petunjuk, atau alamat-alamat yang mengantarkan
penerima mengenal dan memahami hakikat “ayat” tersebut dan hubungan
singkronitasnya dengan Pemilik “ayat” alias Penciptanya. Dari sini diharapkan
muncul kesadaran bertingkat, sesuai dengan kadar mujahadah dan
martabat ruhani yang telah dicapainya. Untuk kalangan pemula (al-mubtadi),
timbul pemahaman bahwa betul-betul لامعبودالاالله (la
ma’buwda illallaɦ, tidak ada yang pantas diibadahi selain Allah). Sementara
untuk kalangan menengah (al-mutawassith), mereka sudah sampai pada faham
bahwa bukan saja tidak ada yang pantas diibadahi selain Allah, tapi juga لامقصودالاالله (la maqshuwda illallaɦ, tidak ada yang pantas
dituju selain Allah). Dan kalangan pemilik martabat paling tinggi (al-muntaɦa)
sudah meyakini bahwa الاالله لامحبوب (la
mahbuwba illallaɦ, tidak ada yang pantas dicintai selain Allah).
B. Al-Baqarah
ayat 251
NèdqãBt“ygsù ÂcøŒÎ*Î/ «!$# Ÿ@tFs%ur ߊ¼ãr#yŠ šVqä9%y` çm9s?#uäur ª!$# šù=ßJø9$# spyJò6Ïtø:$#ur ¼çmyJ¯=tãur $£JÏB âä!$t±o„ 3
Ÿwöqs9ur ßìøùyŠ «!$# }¨$¨Y9$# OßgŸÒ÷èt/ <Ù÷èt7Î/ ÏNy‰|¡xÿ©9 Ùßö‘F{$# £`Å6»s9ur ©!$# rèŒ @@ôÒsù ’n?tã šúüÏJn=»yèø9$# ÇËÎÊÈ
Mereka (tentara Thalut) mengalahkan tentara Jalut dengan izin Allah
dan (dalam peperangan itu) Daud membunuh Jalut, kemudian Allah memberikan
kepadanya (Daud) pemerintahan dan hikmah[157] (sesudah meninggalnya Thalut) dan
mengajarkan kepadanya apa yang dikehendaki-Nya. seandainya Allah tidak menolak
(keganasan) sebahagian umat manusia dengan sebagian yang lain, pasti rusaklah
bumi ini. tetapi Allah mempunyai karunia (yang dicurahkan) atas semesta alam.[2]
(QS. Al-Baqarah: 251)
Keteangan Ayat:
Allah
mengabulkan doa mereka, maka mereka, yakni tentara Thalut mengalahkan
mereka yakni tentara Jalut dengan izin Allah, bukan karena kekuatan
Thalut. Bahkan dalam perang itu, Daud yang merupakan salah seorang tentara
Thalut, berhasil membunuh Jalut, dan setelah keberhasilannya itu, Allah
memberikan kepadanya kekuasaan/kerajaan dan hikmah, sesudah sesudah
meninggalnya Thalut, dan mengajarkan kepadanya apa yang dikehendaki-Nya. Yakni
Allah mengajarkan kepada Daud apa yang dikehendaki Allah untuknya, Seperti
membuat baju besi (QS. Al-Anbiyaa’: 80), mengajakan kepadanya bahasa
burung, dan lain-lain (QS. Saba’: 10).
Akhirnya, ayat
ini ditutup dengan satu kaidah yang berlaku umum, yaitu: seandainya Allah
tidak menolak (keganasan) sebahagian manusia dengan sebahagian yang lain, pasti
rusaklah bumi ini. Jika demikian, orang-orang yang beriman harus selalu
tampil menghadapi para perusak. Hidup adalah pertarungan antara kebenaran dan
kebatilan, dan bila tidak ada yang tampil menghadapi kebatilan dan menghentikan
kezhaliman, maka bumi tempat tinggal manusia akan diliputi oleh kekejaman dan
penganiayaan. Ini bila kezhaliman tidak dihadapi, maka ia akan meningkat dan
meningkat sehingga pada akhirnya dunia ini binasa. Menghadapi mereka tidak
harus dengan senjata, tapi juga dengan lidah melalui amar ma’ruf dan nahi
munkar, bahkan dengan hati. Walaupun yang terakhir ini adalah manifestasi dari
kelemahan iman.
Syukurlah,
karena Allah mempunyai anugerah yang dicurahkan atas semesta alam,
selalu ada yang tampil sebagai pembela kebenaran, walaupun sedikit. Pada
waktunya, Allah akan memenangkan yang sedikit itu agar kebinasaan tidak menimpa
bumi, kecuali jika Allah menghendaki.
Allah
menciptakan alam raya ini dengan hak, bukan untuk bermain-main, kami tidak
menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada antara keduanya dengan
bermain-main. Kemi tidak menciptakan keduanya, melainkan dengan hak, tapi
kebanyakan mereka tidak mengetahui. (QS. Ad-Dukhan: 38-39). Allah memberi
kebebasan melakukan apa saja kepada manusia, tetapi jika ulah mereka telah
sampai pada batas yang berakibat kepada menyimpangnyaalam raya dari hak yang
dikehendaki Allah, maka ketika itu Allah akan turun tangan mencegah mereka,
antara lain dengan memenangkan kelompok kecil, walaupun lawan yang dihadapinya
besar dan kuat menurut perhitungan akal manusia. Lihatlah kekuasaan dan
pengaturan Allah. Seorang pemuda, yaitu Daud as., berhasil membunuh Jalut sang
Raja perkasa. Ini adalah ayat yakni tanda dan bukti, bahwa tidak semua
persoalan berjalan sesuai dengan nalar atau fenomena yang dilihat mata, tetapi
ada pengaturan Allah swt; ada kebijaksanaan-Nya yang berlaku di alam raya ini.
Ada yang rasional dan ada yang supra rasional.
Learn the Best Online Baccarat for Beginners
ReplyDeleteBaccarat has been around 바카라 사이트 for some time now, but in 바카라 its past few years, there have been 1xbet several successful variations of betting. This is the one